Category Archives: Pelatihan K3 Kemnaker

Uji Riksa Alat K3 | Pemeriksaan dan Pengujian Peralatan K3 | 0811-1520-700

Mendengar kata Uji Riksa mungkin ada beberapa dari kita sudah tidak asing lagi mendengarnya. Dalam pelaksanaan K3, Uji Riksa merupakan salah satu upaya untuk menjaga keselamatan para pekerja. Uji Riksa pada dasarnya merupakan pemeriksaan yang dilakukan secara berkala pada suatu peralatan yang ada. Uji Riksa wajib dilakukan selanjutnya akan mengevaluasi hasil dari Uji Riksa tersebut. Tidak hanya itu, peralatan akan diuji secara berkala minimal kurang lebih setiap 6 bulan.

Dalam pelaksanaan K3, Uji Riksa merupakan salah satu upaya untuk menjaga keselamatan para pekerja proyek, mengingat dalam suatu proyek, terdapat struktur bangunan yang memiliki beban berat. Uji Riksa pada dasarnya merupakan pemeriksaan yang dilakukan secara berkala pada suatu peralatan yang ada di dalam suatu proyek.

Riksa Uji ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Laik Pakai sebuah peralatan yang merupakan Asset Perusahaanforklift dan membantu Perusahaan dalam Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang akan mewujudkan Budaya K3 di Perusahaan, serta secara berkelanjutan akan patuh terhadap penerapan Undang-undang dan peraturan terkait lainnya, terutama dibidang keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang berlaku di Indonesia.

Kriteria Teknis Jenis Riksa dan Uji (Tahapan) 

A. Pemeriksaan Data/Verifikasi.

  • Data Umum.
  • Data Teknis.

B. Pemeriksaan Visual.

  • Pemeriksaan Visual dengan Menggunakan Checklist.
  • Dimensi Check.

C. Pemeriksaan NDT.

  • Seluruh komponen utama atau komponen yang menerima beban atau komponen yang diragukan kekuatannya/kemampuannya.

D. Pengujian

  • Dinamis (Running Test).
  • Statis.

E. Pemeriksaan setelah pengujian.

F. Laporan.

Pada saat ini pembangunan fisik yang menggunakan alat alat modern sangat pesat peningkatannya. Untuk itu harus diimbangi juga dengan usaha keselamatan dan kesehatan kerja untuk tenaga kerja maupun orang lain baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang berada dilingkungan tempat kerja sesuai dengan Undang undang No 1 Tahun 1970.
Untuk itu sangat diperlukan sebuah perlindungan terhadap tenaga kerja dan pelaksanaan teknis K3 khususnya pada bidang pemeriksaan dan pengujian alat serta teknik kerja, untuk itu sangat diperlukan sebuah Riksa Uji Peralatan yang sesuai dengan masing masing alat yang akan digunakan yaitu:
  1. Riksa Uji Peralatan Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT)
  2. Riksa Uji Peralatan Pesawat Angkat & Angkut (Forklift, Crane & Alat Berat)
  3. Riksa Uji Peralatan Pesawat Tenaga dan Produksi (PTP) (Genset, Tanur, Turbin)
  4. Riksa Uji Peralatan Instalasi Listrik, Petir dan Lift
  5. Riksa Uji Elevator (Lift) & Eskalator.
  6. Riksa Uji Peralatan Instalasi Proteksi Kebakaran
  7. Pemeriksaan NDT, Ultrasonic, Radiografy, Wire Rope Tester.

Pemeriksaan dan Pengujian

  • Pesawat Angkat & Angkut (Forklift, Crane & Alat Berat)
  • Instalasi Listrik
  • Penyalur Petir
  • Elevator (Lift) & Eskalator
  • Instalasi Proteksi Kebakaran
  • Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT)
  • Pesawat Tenaga dan Produksi (PTP)

Manfaat Uji Riksa Alat K3

  1. Mencegah, mengurangi bahkan menghilangkan resiko kecelakaan kerja (zero accident).
  2. Mencegah terjadinya cacat/kematian pada tenaga kerja.
  3. Mencegah kerusakan tempat dan peralatan kerja
  4. Mencegah pencemaran lingkungan dan masyarakat disekitar tempat kerja
  5. Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja.

Tujuan dari Uji Riksa Alat K3 

  1. Memenuhi persyaratan Peraturan Perundangan yang berlaku.
  2. Menguji kelayakan Pesawat Angkat dan Angkut.
  3. Memeriksa dan menguji kekuatan knstruksi (Integritas Structur)
  4. Membuktikan Kestabilan dalam operasi
  5. Untuk mendapatkan Sertifikat/Ijin Pemakaian atau Re-Sertifikasi (berkala)

Dasar Hukum Uji Riksa Alat K3 

  1. Undang Undang No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja sering disebut juga sebagai dasar dari berbagai peraturan yang ada terkait dengan Keselamatan Kerja di Indonesia.  Walaupun diterbitkan pada tahun 1970, Undang-undang ini masih eksis hingga saat ini.
  2. Permenaker No. 05/Men/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut, Menimbang:
    a.bahwa dengan meningkatnya pembangunan dan teknologi dibidang industri,  penggunaan pesawat angkat dan angkut merupakan bagian integral dalam  pelaksanaan dan peningkatan proses produksi; b.bahwa dalam pembuatan, pemasangan, pemakaian, perawatan pesawat angkat dan angkut mengandung bahaya potensial;
    c.bahwa perlu adanya perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja setiap tenaga kerja yang melakukan pembuatan, pemasangan, pemakaian,  persyaratan pesawat angkat dan angkut.
  3. Permenaker No. 02/Men/192 tentang Kualiikasi Juru Las di tempat Kerja.MEMUTUSKAN PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI TENTANG KWALIFIKASI JURU LAS DI TEMPAT KERJA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini dimaksud dengan: a. Tempat Kerja adalah tempat sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun b. Pengurus adalah Pengurus sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (2) Undang undang No. 1 Tahun c. Pegawai Pengawas adalah Pegawai Pengawas sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (5) Undang-undang No. 1 Tahun d. Direktur adalah Direktur sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 79 Tahun 1977; Pasal 2 (1) Peraturan Menteri ini meliputi kwalifikasi juru las untuk ketrampilan pengelasan sambungan las tumpul dengan proses las busur listrik, las busur listrik submerged, las gas busur listrik tungstem, las karbit atau kombinasi dari proses las tersebut yang dilakukan dengan tangan (secara manual), otomatis atau kombinasi. (2) Syarat untuk juru las yang melakukan pengelasan secara otomatis akan diatur lebih lanjut. halaman 1 dari 17
  4. Permenaker No. 09/Men/2010 tentang Kualifikasi dan Syarat-Syarat Operator Keran Angkat, bahwa dengan berkembangnya penggunaan jenis dan kapasitas pesawat angkat dan angkut maka perlu menyempurnakan Peraturan Menteri Tenaga Kerja.

Adapun Ruang Lingkup pada Uji Riksa Peralatan adalah

  1. Pemeriksaan dan Pengujian dalam proses pembuatan peralatan
  2. Pemeriksaan dan Pengujian pertama dalam penggunaan dan pemakaian serta implementasi peralatan / instalasi baru atau setelah pemasangan.
  3. Pemeriksaan Tidak Merusak (NDT)
  4. Pengujian Beban
  5. Laporan Pemeriksaaan dan Pengujian
  6. Kesimpulan dan saran
  7. Surat Keterangan DIsnaker Setempat (estimitasi 1bulan)

Perusahaan hendaknya sebelum melakukan Uji Riksa dan Sertifikasi menyiapkan

  1. Copy Dokumen Izin Terakhir Lengkap
  2. Mempersiapkan peralatan yang akan disertifikasi
  3. Manual Book
  4. Izin Kerja Lapangan
  5. Beban  alat bantu disiapkan oleh Perusahaan setempat.

Uraian Jasa Riksa Uji

Jasa Pemeriksaan dan Pengujian ini mencakup :Pemeriksaan dan Pengujian
  1. Pemeriksaan dan Pengujian
  2. Laporan Hasil Pemeriksaan dan Pengujian
  3. Pengurusan Sertifikasi Kurang Lebih 2 Bulan Setelah Pemeriksaan Unit/ Alat
  4. Tool Inspeksi dan Asesoris
Pemeriksaan dan pengujian secara berkala dan reguler sesuai dengan masa berlaku serta berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan.
Pada prosesnya, pemeriksaan dan pengujian alat K3 ini sangat diperlukan agar supaya  pemenuhan terhadap keselamatn dan kesehatan kerja karyawan ataupun pegawai bisa terlaksana. Sebab bagaimanapun keselamatn karyawan adalah hal yang utama. Jadi diharapkan perusahaan tidak hanya memikirkan keuntungan sementara dan mengabaikan pegawainya. Dengan Peraturan perundangan ini, maka hak hak pegawai dan karyawan baik yang bersifat sementara / kontrak maupun yang karyawan tetap, akan terjaga dan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Karena pegawai atau karyawan adalah asset yang paling berharga dari sebuah perusahaan.
Karena dalam melaksanakan pekerjaan para pegawai menggunakan alat alat bantu untuk memperlancar dan memudahkan mereka dalam mencapai target target kerja, maka pemeriksaan dan pengujian terhadap peralatan tersebut bersifat mutlak. Tidak bisa tidak harus dilaksanakan secara reguler dan periodik. Jangan sampai ada alat alat kerja yang tidak laik pakai tetapi dioperasikan. akan sangat berbahaya untuk semua yang terlibat baik secara langung maupun tak langsung.

Pencarian dari Google:

Tenaga bangunan tinggi (TKBT)2 Sertifikasi Kemnaker | 0811-1520-700

Training TKBT 2 Sertifikasi Kemnaker

Tenaga bangunan tinggi (TKBT)2  Sertifikasi Kemnaker

Pelatihan Tenaga Kerja Bangunan Tinggi Tingkat 2 (TKBT 2) – Bekerja di ketinggian memiliki resiko yang sangat besar,terjatuh dari ketinggian merupakan salah satu penyebab kematian yang umum di lokasi konstruksi,maka dari itu di dalam praktiknya sangat di perlukan lisensi bekerja di ketinggian.

Pelatihan Tenaga kerja bangunan tinggi tingkat 2 (TKBT 2) adalah salah satu Pelatihan k3 yang bertujuan untuk mengurangi potensi resiko dalam kecelakaan kerja,Pelatihan TKBT 2 ini di rancang untuk membekali pekerja akan kebutuhan pengetahuan dan keterampilan dalam keselamatan bekerja di Ketinggian.

Terjatuh dari ketinggian adalah salah satu penyebab kematian paling umum di lokasi konstruksi. Mengurangi kecelakaan di tempat kerja adalah praktik manajemen yang baik. Perusahaan dapat menghemat uang melalui meningkatkan output dan mengurangi risiko denda dan klaim kompensasi.

Pelatihan Pelatihan Tenaga Kerja Bangunan Tingkat Tinggi 2 (TKBT 2) ini dirancang untuk membekali pekerja dengan pengetahuan dan keterampilan untuk bekerja dengan aman dalam setiap situasi ketinggian. Peserta akan dibekali kemampuan untuk mengenali potensi cedera serius saat bekerja di ketinggian dan menentukan metode yang aman yang tersedia untuk meminimalkan risiko.

Latar Belakang Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center  :
Bekerja pada ketinggian adalah mempunyai potensi bahaya yang sangat besar. Ada berbagai macam metode kerja di ketinggian seperti diterapkan secara luas dalam pembangunan, pemeriksaan, perawatan bangunan dan instalasi industri seperti gedung tinggi, menara jaringan listrik, menara komunikasi, anjungan minyak, perawatan dan perbaikan kapal, perawatan jembatan, pertambangan, industri pariwisata seperti out bound, penelitian dan perawatan hutan dan lain sebagainya.
Merujuk kepada Undang-undang RI No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, mengisyaratkan pada BAB V tentang PELATIHAN KERJA dan tersedianya tenaga kerja pada bangunan tinggi yang penuh dengan resiko kerja sangat diperlukan. Pengusaha dan pengurus diharapkan mampu mengawasi pelaksanaan peraturan perundangan K3 di lingkungannya dan mampu memberikan peran optimal dalam organisasi perusahaan dalam mengendalikan resiko kecelakaan kerja.

Tujuan Pengertian Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :

  • Bekerja pada ketinggian (working at height) adalah pekerjaan yang membutuhkan pergerakan tenaga kerja untuk bergerak secara vertikal naik, mau pun turun dari suatu platform.
  • Akses tali (rope access) adalah suatu bentuk aktifitas pekerjaan atau posisi dalam bekerja yang awalnya dikembangkan dari teknik pemanjatan tebing atau penelusuran gua, digunakan untuk mencapai tempat-tempat yang sulit dijangkau, tanpa adanya bantuan perancah, platform atau pun tangga.

Tujuan Program Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:

Pemenuhan Kebutuhan pengetahuan keterampilan dan pembentukan sikap kerja berdasarkan K3 pada unit kerja di ketinggian.

Kompetensi Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:
Setelah peserta Lulus Uji Kompetensi K3 Teknisi K3 Bekerja Pada Ketinggiani Tingkat 2 (Dua) yang duji oleh Instruktur maka berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 09/MEN/III/2016, Tentang Diktum Tenaga Kerja Bangunan Tinggi Tingkat 2 (Dua) diganti dengan Tenaga Kerja Bangunan Tinggi Tingkat 2 (Dua) yang mana dikhususkan pada pekerja Telekomunikasi adalah sebagai berikut:

  1. Pemasangan pengaman kerja.
  2. Memasang penambatan dibawah supervisi level
  3. Bagi Tenaga Kerja Bangunan TInggi Tingkat 2 (Dua) yang telah mendapatkan sertifikat diberikan lisensi K3 oleh Direktur Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai Tenaga Kerja Bangunan Tinggi Tingkat 2 (Dua).
  4. Lisensi K3 berlaku 5 (lima tahun) dan harus diperpanjang lagi, melalui Training atau tanpa Training.

Materi yang Diajarkan Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:

  1. Kelompok Dasar
    • Peraturan Perundang-Undangan K3 dalam pekerjaan pada ketinggian
  2. Kelompok Inti
    • Karakteristik Lantai Kerja Tetap dan Lantai Kerja Sementara
    • Alat pencegah dan penahan jatuh kolektif serta alat pembatas gerak
    • Prinsip penerapan faktor jatuh
    • Prosedur kerja aman pada ketinggian
    • Teori dan praktek bergerak horizontal atau vertikal menggunakan struktur bangunan
    • Teori dan praktek teknik bekerja aman pada struktur bangunan dan bekerja dengan posisi miring dan struktur miring
    • Teori dan praktek teknik menaikkan dan menurunkan barang dengan sistem katrol
  3. Kelompok Penunjang
    • Teori dan praktek upaya penyelamatan dalam keadaan darurat
  4. Evaluasi
    • Teori
    • Praktek

Kurikulum Pembinaan Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :

  • Peraturan perundang-undangan K3 dalam pekerjaan pada ketinggian
  • Karakteristik lantai kerja tetap dan lantai kerja sementara
  • Alat pencegah dan penahan jatuh kolektif serta alat pembatas gerak
  • Prinsip penerapan faktor jatuh
  • Prosedur kerja aman pada ketinggian
  • Teori dan praktik bergerak horizontal atau vertikal menggunakan struktur bangunan
  • Teori dan praktik teknik menaikkan dan menurunkan barang dengan sistem katrol
  • Teori dan praktik upaya penyelamatan dalam keadaan darurat
  • Job safety analysis
  • Evaluasi praktik dan teori

Sertifikasi Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :
Peserta yang lulus pada pelatihan ini akan diberikan sertifikat dan kewenangan yang di keluarkan oleh KEMENAKER.

Metode Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:

Ceramah, diskusi & praktek

Instruktur Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :

Instruktur yang akan memberikan pelatihan ini berasal dari Kementrian Tenaga Kerja yang memiliki keahlian khusus di bidang K3

Persyaratan Peserta Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :

  • Pelatihan ini sangat tepat untuk diikuti oleh pegawai yang bekerja pada ketinggian yang telah bekerja sekurang-kurangnya dua tahun atau lebihPersyaratan Peserta :
    1. Sekurang-kurangnya berpendidikan SD / sederajat.
    2. Umur sekurang-kurangnya 18 tahun.
    3. Membawa fotokopi ijazah terakhir.

Berkas Yang Di Butuhkan Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center :

  • Membawa Pas Foto 4×6, 3×4, 2×3 masing-masing sebanyak 3 ( tiga ) lembar (background merah)
  • Membawa Foto Copy Kartu Identitas
  • Fotokopi Ijazah terakhir sebanyak 1 ( satu ) lembar
  • Membawa Surat Rekomendasi dari Perusahaan
  • Membawa APD : Safety Helmet dan Safety shoes (Per individu),Full Body Harness (Per Kelompok)

Fasilitas Training Operator Gondola Sertifikasi Kemnaker di Global Training Center :

  • Sertifikat resmi dari Kemnaker Republik Indonesia
  • Modul Training ( soft copy dan hard copy )
  • Training Kit ( tas, blocknote, ballpoint, materi pelatihan )
  • 1 ( satu ) kali Makan Siang
  • Coffee Break 2 ( dua ) kali
  • Souvenir

Durasi pelatihan Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:

Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 3 ( tiga ) Hari

Investasi Pelatihan Tenaga Bangunan Tinggi (TKBT) 2 di Global Training Center:
Rp. 5.800.000

Rahmah
0877 1343 3385
0896 3449 9240
rahmah@globaltraining-id.com
ae01globaltraining@gmail.com

K3 Pelatihan kebakaran Kelas D | 0811-1520-700

Training K3 Kebakaran Kelas D Sertifikasi Kemnaker

K3 Pelatihan kebakaran Kelas D Global Training Center

Peristiwa kebakaran dapat terjadi akibat adanya nyala api yang tidak terkendali sehingga menjalar membakar benda-benda di sekitarnya dan pada akhirnya menyebabkan rusak hingga musnah atau hancurnya suatu bangunan dan barang-barang di dalamnya, bahkan juga berisiko menyebabkan korban luka hingga mengancam keselamatan nyawa. Seperti yang telah kita ketahui, nyala api dapat timbul dikarenakan adanya segitiga api. Segitiga api yang dimaksud di sini adalah tiga faktor atau unsur yang jika ketiganya hadir bersamaan, maka dapat menciptakan nyala api.

Segitiga api tersebut antara lainnya meliputi oksigen atau gas O2 di mana dalam kadar normal yaitu 21% kandungan oksigen di udara, maka telah cukup menjadi unsur segitiga api. Unsur yang selanjutnya adalah bahan yang dapat terbakar (flammable) baik itu bersifat padat, cair, maupun gas, di mana bahan-bahan tersebut dapat memicu nyalanya api. Sedangkan unsur yang terakhir adalah adanya suhu tinggi atau sumber panas yang dapat menyulut api pada bahan yang dapat terbakar tersebut dan tentunya dengan dibantu oleh adanya kandungan oksigen. Sumber panas dari suhu tinggi tersebut bisa berasal dari terik matahari, gesekan atau energi mekanik, korsleting pada listrik, kompresi udara, hingga suhu panas akibat adanya reaksi kimia.

Peristiwa kebakaran dapat terjadi akibat adanya nyala api yang tidak terkendali sehingga menjalar membakar benda-benda di sekitarnya dan pada akhirnya menyebabkan rusak hingga musnah atau hancurnya suatu bangunan dan barang-barang di dalamnya, bahkan juga berisiko menyebabkan korban luka hingga mengancam keselamatan nyawa. Seperti yang telah kita ketahui, nyala api dapat timbul dikarenakan adanya segitiga api. Segitiga api yang dimaksud di sini adalah tiga faktor atau unsur yang jika ketiganya hadir bersamaan, maka dapat menciptakan nyala api.

Segitiga api tersebut antara lainnya meliputi oksigen atau gas O2 di mana dalam kadar normal yaitu 21% kandungan oksigen di udara, maka telah cukup menjadi unsur segitiga api. Unsur yang selanjutnya adalah bahan yang dapat terbakar (flammable) baik itu bersifat padat, cair, maupun gas, di mana bahan-bahan tersebut dapat memicu nyalanya api. Sedangkan unsur yang terakhir adalah adanya suhu tinggi atau sumber panas yang dapat menyulut api pada bahan yang dapat terbakar tersebut dan tentunya dengan dibantu oleh adanya kandungan oksigen. Sumber panas dari suhu tinggi tersebut bisa berasal dari terik matahari, gesekan atau energi mekanik, korsleting pada listrik, kompresi udara, hingga suhu panas akibat adanya reaksi kimia.

Mengenal Lebih Jauh Kebakaran Kelas D, Apa itu?

Sedangkan berdasarkan bahan yang menjadi media pembakaran yang memicu adanya nyala api, kebakaran ini sendiri diklasifikasikan menjadi beberapa kelas kebakaran. Salah satu pengklasifikasian yang paling sering digunakan adalah pengklasifikasian kelas kebakaran yang diatur oleh NFPA atau National Fire Protection Association yang membagi kelas kebakaran menjadi 5 kelas (kelas A, B, C, D, dan kelas K). Selain itu, untuk peraturan di Indonesia sendiri, pengklasifikasian kebakaran diatur berdasarkan peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan nomor peraturan No. 04/MEN/1980 pada pasal 2 di dalam Bab I, di mana kelas kebakaran diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu kelas A, B, C, dan kelas D. Di beberapa negara, bahkan ditetapkan pula klasifikasi tambahan dengan kelas E.

Namun pada artikel kali ini, kita akan mengenal lebih jauh kebakaran kelas D. Berbeda dari klasifikasi kelas kebakaran lain yang kerap ditemui dalam berbagai kasus peristiwa kebakaran, kebakaran dengan kelas D merupakan kebakaran yang tergolong jarang ditemukan. Hal ini tentu saja merujuk pada bahan yang terlibat di dalam kebakaran kelas D yang meliputi benda-benda berupa metal atau logam padat, seperti misalnya natrium, alumunium, kalium, magnesium, dan lain sebagainya.

Penanganan kebakaran dengan kelas D ini harus sangat hati-hati dan harus mendapatkan perlakuan khusus karena kebakaran dengan logam atau metal padat yang meleleh tidak bisa diatasi dengan media atau agen pemadam yang bersifat mendinginkan, sehingga kebakaran dengan kelas D tentu saja tidak bisa dipadamkan dengan agen pemadam seperti karbondioksida atau gas CO2 dan air karena berpotensi memicu adanya ledakan akibat adanya serbuk atau debu logam yang terkontak dengan konsentrasi udara dan agen pemadam yang bersifat dingin, sehingga justru akan menyebabkan kebakaran semakin besar dan tentu saja juga sangat membahayakan bagi petugas yang memadamkan.

Dalam klasifikasi alat pemadam api ringan maupun berat (APAR dan APAB), kebakaran kelas D hanya bisa diatasi dengan Metal Fire Extinguisher yang memang didesain khusus untuk menghadapi kebakaran logam atau metal. Pada umumnya, alat pemadam metal fire extinguisher ini memiliki warna merah pada badan dengan panel yang diberi warna biru, di mana panel tersebut terletak tepat di atas kolom instruksi penggunaan alat. Pada umumnya, kebakaran kelas D hanya bisa dipadamkan dengan media-media pemadam berupa serbuk kimia khusus, sodium, klorida, dan grafit.

LATAR BELAKANG TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar pencegahan dan penanggulangan kebakaran, serta mempersiapkan petugas dan tenaga kerja untuk menanggulangi kebakaran dalam perusahaan. Dasar hukum yang melandasi pentingnya training ini adalah:

  1. Undang-Undang No.01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  2. Permenaker No.4 Tahun 1980 tentang Alat Pemadam Api Ringan.
  3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. KEP-186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

Materi Pelatihan Training Petugas Pemadam Kebakaran Kelas D :

  1. Dasar – Dasar K3 Penanggulangan K3 Kebakaran
  2. Dasar – Dasar Manajemen Kebakaran
  3. Teori Api dan Anatomi Kebakaran
  4. Sistem Kebakaran Aktif
  5. Dasar – Dasar Prosedur Bila Terjadi Kebakaran (Fire Emergency Plant)
  6. Praktek pemadaman Kebakaran dengan menggunakan :

Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Hidrant

SASARAN DAN MANFAAT TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • Peserta akan memahami pentingnya upaya pencegahan kebakaran melebihi upaya penanggulangannya
  • Mengerti bagaimana kebakaran terjadi, penjalarannya, dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya
  • Memberikan kesadaran tentang pentingnya meningkatkan perilaku keseharian dalam pencegahan kebakaran.
  • Mengenal beberapa sarana dan prasarana peralatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
  • Mengantisipasi dan mengurangi kerugian akibat kebakaran, dengan membentuk organisasi peran kebakaran.
  • Mampu memadamkan kebakaran tingkat awal

PERSYARATAN PESERTA TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • Minimal pendidikan SLTP/sederajat
  •  Photocopy KTP dan ijazah terakhir
  •  Pas photo 2×3, 3×4, 4×6 masing-masing 3 lembar
  •  Surat keterangan sehat dari dokter
  • Surat penugasan dari perusahaan

OUTLINE  TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  1. Dasar – Dasar K3 Penanggulangan K3 Kebakaran
  2. Dasar – Dasar Manajemen Kebakaran
  3. Teori Api dan Anatomi Kebakaran
  4. Sistem Kebakaran Aktif dan Pasif
  5. Dasar – Dasar Prosedur Bila Terjadi Kebakaran ( Fire Emergency Plant )
  6. Praktek pemadaman Kebakaran dengan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan ( APAR )

INSTRUKTUR TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • Tenaga Ahli dari Kemenaker
  • Praktisi

FASILITAS TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • Hard / Soft Copy Materi Training
  • Sertifikat  dari Kemnaker
  • Kartu Lisensi dari Kemnaker
  • Sertifikat Training dari HSP
  • 2x coffee break
  • Makan Siang
  • Gimmick

DURASI TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • 3 Hari

BIAYA TRAINING PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KELAS D :

  • Rp. 4,500.000,- (Empat Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)

Pencarian dari Google:

× Mau info training, chat yuk!